google-site-verification=fbNRZd_GGUcoASUx4OxdPp1QF8CMbm7AHZSxP2RDp7k
Sab. Mei 15th, 2021

Seberapa Besar Kualitas Pendampingan Ayah pada Anak Saat WFH

JPM–WFH atau Work From Home merupakan kegiatan bekerja dari rumah, biasanya digunakan jika pekerja melakukan pekerjaan jarak jauh dan berkomunikasi maupun berkoordinasi secara digital untuk menyelesaikan pekerjaannya. Istilah ini mulai banyak dikenal saat Coronavirus disease (COVID-19) merebak di seluruh penjuru dunia. Sebelumnya, istilah WFH ini digunakan untuk memberi tahu kolega bahwa seseorang bekerja dari rumah pada hari tertentu atau untuk periode sementara guna meminimalisir risiko pada kesehatan dan keselamatan individu terkait. Singkatnya, pekerja tidak perlu datang ke kantor dan bertatap muka dengan para pekerja lainnya.

 

Sejak pandemi COVID-19, WFH menjadi kegiatan wajib di beberapa sektor pekerjaan di Indonesia guna mengurangi penyebaran virus Corona. Selain itu, sekolah juga memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk para siswa. Hal ini menuntut ayah, ibu, dan anak melakukan semua aktivitasnya dari rumah. Di satu sisi, keterbatasan aktivitas luar ruang seharusnya membuat hubungan antaranggota keluarga semakin akrab. Waktu anak bertemu dengan ayahnya rata-rata hanya 65 menit dalam satu hari ketika ayah masih bekerja normal di kantor. Keberadaan ayah di rumah yang biasanya hanya ada saat malam hari hingga pagi hari, kini menjadi semakin intens. Lalu, apakah WFH memengaruhi kualitas pendampingan ayah untuk anak, mengingat anak akan bertemu ayahnya di rumah sepanjang hari?

 

Survei Pelaksanaan Pembelajaran dari Rumah dalam Masa Pencegahan COVID-19 Tahun 2020 oleh Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, menunjukkan sebanyak dua pertiga (sekitar 66,7%) pendampingan anak di Indonesia masih dominan dilakukan oleh kaum perempuan. Selain itu, survei yang digelar sepanjang April hingga Mei 2020 pada orang tua di 34 provinsi tersebut menemukan penyebab utama orang tua (53,8%) tidak bisa mendampingi anak mereka belajar di rumah adalah karena tuntutan pekerjaan. Bisa dikatakan bahwa WFH tidak menjamin seorang ayah mampu mendampingi anak-anaknya secara maksimal meskipun berada sepanjang hari di rumah. Alasannya, para ayah tetap memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan kantor meski berada di rumah.

 

Ricky Putra, Chief Operating Officer (COO) GREDU, yang juga merupakan seorang ayah turut mengamini hasil survei tersebut. Menurutnya, aktivitas di luar rumah sangat menyita waktunya sehingga porsi untuk bertemu dengan anaknya sangatlah sedikit. Namun, ketika terjadi pandemi COVID-19 dan membuatnya harus bekerja dari rumah maka dihadapkan pada realita bahwa mengasuh anak ternyata tugas yang berat.

 

Ditambahkan oleh Yandra Rahadian, salah satu pendiri organisasi Ayah ASI Yogyakarta, dalam Webinar GREDU #HebatdenganTerlibat pada Sabtu (27/3), yang membuat tugas ayah dalam pengasuhan itu menjadi berat adalah seorang ayah harus bisa memberikan nilai-nilai kehidupan untuk anaknya sejak dini yang diharapkan akan menjadi bekal di masa depan. Ayah juga harus mampu mengelola waktu secara baik dan benar agar pekerjaan dan pengasuhan anak dapat berjalan beriringan.

 

Kemudian, adakah dampak emosional bagi anak yang melihat ayahnya bekerja dari rumah namun tetap tidak bisa meluangkan waktunya secara maksimal untuk anak? Mira Damayanti Amir, seorang psikolog anak dan keluarga membenarkan hal ini terutama jika terjadi penolakan yang berulang dari sang ayah tentu mengakibatkan kekecewaan bagi anak. Ketika kekecewaan ini sudah muncul maka anak cenderung tidak akan percaya bahkan tidak menghargai sosok ayah.
Melihat hal ini, GREDU merangkum kiat-kiat agar ayah bisa tetap berinteraksi pada saat WFH untuk meningkatkan kualitas pendampingan anak:

 

1.      Berdiskusi dengan anak, tentukan kapan ayah siap mendampingi

Ketika anak meminta waktu untuk bersama, maka seorang ayah sebaiknya berupaya untuk memenuhinya. Jika belum bisa, tentukan kapan ayah siap. Contohnya, ketika anak meminta waktu untuk bermain, ayah bisa meminta anak untuk memberikan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Kata sederhana seperti “Nak, ayah minta waktu 30 menit untuk selesaikan pekerjaan ayah, setelah itu ayah akan temani kamu”, “Hari ini ayah gak bisa boleh besok gak? Besok ayah bisa di jam sekian”. Intinya, jawaban dari ayah bukanlah sebuah penolakan langsung. Seorang ayah harus mampu berdiskusi dengan anak sehingga anak akan mengerti. Pentingnya komunikasi dua arah dengan anak tentunya akan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua pihak.

 

2.      Lakukan kontak mata ketika berkomunikasi dengan anak

Hal yang paling mudah dilakukan yaitu ketika berbicara dengan anak adalah mata ayah tertuju pada anaknya. Kontak mata langsung diperlukan sehingga ayah akan memahami apa yang hendak ia sampaikan dan anak merasa dihargai.

 

3.      Posisikan anak merasa diperhatikan dan disayangi

Hal sederhana namun berdampak cukup besar adalah sentuhan dari orang tua. Misalnya, ketika sudah selesai bekerja namun anak sudah terlelap, ekspresikanlah dengan sekadar memeluknya saat dia tertidur. Usahakan agar kebiasaan ini dilakukan secara konsisten oleh ibu dan ayah sehingga anak tetap merasa diperhatikan.

 

4.      Beraktivitas dengan Anak

Yang terakhir adalah ayah harus mampu beraktivitas motorik dengan anak. Cara ayah dan ibu menghabiskan waktu dengan anak sangatlah berbeda. Jika dengan ibu lebih banyak berinteraksi melalui ucapan atau sapaan dengan anak, maka ayah harus lebih mengajak anak untuk beraktivitas fisik seperti olahraga atau permainan luar ruang. Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu saling mendukung agar anak merasakan kasih sayang yang seimbang dari kedua orangtuanya.

(Sq/Dauz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *